Cerbung: Cermin [Part 1]

Cermin.jpg

Namaku Dini, aku baru saja lulus SMA dan sebelum masuk kuliah aku berencana untuk liburan ke rumah kakek-nenek di kampung. Aku pergi bersama sepupuku Kiki dan temanku Rani.

Aku dan kakek ku memiliki hubungan yang baik, kakek lebih dekat denganku dibanding Kiki. Sayangnya, kakek sudah meninggal beberapa bulan yang lalu dan aku juga tidak bisa menghadiri pemakamannya karena saat itu sedang ujian. Kini nenek tinggal bersama anaknya yg lain di kampung yakni paman Irwan sementara rumahnya dulu yang ia tempati bersama Kakek akan di jual. Untungnya rumah tersebut belum terjual dan aku meminta izin kepada nenek untuk menginap di rumah tersebut bersama teman-temanku selama berlibur di kampung.

"Ini rumahnya, Din?" Tanya Rani saat sampai di depan rumah kakek-nenek yang akan di jual.
"Iya, emangnya kenapa?" Jawabku.
"Enggak, cuman suasananya agak horor ya."
"Dasar penakut, eh tapi kata nenek di rumah ini pernah ada penampakan kuntilanak loh." Kiki mencoba menakut-nakuti Rani.
"Diam Ki lah, mana ada." Aku mencoba menegur Kiki agar tidak membuat Rani semakin takut.

Rumah ini memang cukup jauh dari rumah penduduk yang lain, dekat kebun teh dan persawahan tapi memang itu yang aku cari, udara segar dan pemandangan yang hijau di perkampungan. Ada 3 kamar di rumah ini, pas karena kami juga bertiga tapi karena Rani agak takut jadi ia ingin sekamar denganku. Aku memilih kamar kakek-nenek dan Kiki memilih kamar lain. Rumah ini sudah agak kosong, beberapa perabotan sudah di ambil tapi masih ada yang tersisa untuk kami gunakan.

Malam harinya kami berencana untuk segera tidur karena besok pagi kami akan pergi ke sungai tempat aku dan Kiki bermain dulu bersama kakek. Tapi sebelum tidur aku dan Rani melakukan sedikit percakapan.

"Ran, kok bisa sih nilai kamu bagus-bagus di rapor, perasaan kamu selalu di bawah aku deh. Nilai UN sama USBN kamu juga kok bisa bagus sih?" Aku memulai percakapan.
"Simple, karena aku pintar, hehe" Jawab Rani sambil bercanda.
"Pintar dari mananya, PR nyontek mulu"
"Ye, aku kan bukan tipe orang sombong, jadi enggak suka nunjukin kepintaran, aku keluarin kepintaranku pas UN aja."
"Terserah dah, udah tidur, besok kita senang-senang."

Malam itu kami tidur cukup nyenyak.

Paginya sebelum kami pergi kami sarapan dulu. Kami membawa beras dari rumah nenek dan nenek bilang kalau di rumah ini masih ada penanak nasi di gudang. Aku pun pergi ke gudang mencarinya, saat di gudang aku menemukan sesuatu yang ditutupi kain putih. Kelihatannya seperti cermin. Aku menyentuhnya dan ya benar saja itu cermin tapi aku tak membuka penutup kainnya. Tiba-tiba Kiki memanggilku, aku pun pergi meninggalkan gudang.

Hari itu kami senang-senang, berenang di sungai, makan kelapa dari kebun paman dan bersantai di bawah teduhnya pepohonan.

Sore menjelang kami pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku penasaran dengan cermin di gudang itu. Entah kenapa aku penasaran dengan itu, padahal itu cuman cermin dan aku sudah sering melihat cermin, sebagai wanita yang memperhatikan penampilan hampir setiap hari aku bercermin. Malam harinya aku pergi ke gudang untuk melihat cermin itu. Aku membawanya ke kamar kosong, aku mulai membuka kainnya dan aku mulai melihat bentuk cermin itu. Bentuknya persegi panjang dengan bingkai yang aneh, di bagian atas bingkai itu ada tulisan tapi sepertinya bukan tulisan yang aku kenal, mungkin tulisan kuno zaman dulu. Cermin ini tampak seperti cermin biasanya menunjukkan potret kita. Sampai beberapa saat tiba-tiba bayanganku dalam cermin itu bergerak dengan sendirinya, ia membuka mulut lalu keluar ular dari mulutnya. Aku langsung berteriak karena aku paling takut dengan ular. Kiki dan Rani langsung datang menghampiriku.


"Din, ada apa?" Tanya Kiki dengan muka yang kaget.
"Cer... Cer... Cermin itu aneh Ki." Jawab aku.
"Aneh apanya? Dari mana kamu dapat cermin ini."
"Coba deh Ki, kamu bercermin"

Kiki mulai menghadap ke cermin itu, awalnya ia merasa tidak ada yang aneh sampai ia melihat mukanya di penuhi dengan kecoa. Sontak kiki pun bersumpah serapah.

"Kampret, bangsat apaan nih?"
"Apaan Ki?" Rani tampak penasaran.
"Mukaku Ran, dipenuhi kecoa."
"Mana? enggak ada kok."
"Itu tadi di cermin. Cermin macan apa ini?"
"Kok kecoa sih, tadi aku lihat ular." Aku merasa aneh.

Aku sepertinya mulai berasumsi kalau cermin ini memperlihatkan sesuatu yang kita takuti. Aku memang dari kecil takut ular sementara Kiki yang aku tahu memang takut kecoa. Kini tinggal Rani yang belum bercermin dan kebetulan aku juga tidak tahu hewan apa yang ia takuti.

Dari yang awalnya aku ketakutan sekarang aku malah menganggap cermin ini cukup menarik karena memperlihatkan hewan yang kita takuti meskipun caranya agak sedikit ekstrem. Aku pun menyuruh Rani untuk bercermin, ia pun tampak tak keberatan. Rani mulai bercermin sementara aku dan Kiki melihat dari agak jauh. Seperti biasa awalnya tak terjadi apa-apa lalu tiba-tiba muncul pak Wahyu guru di sekolah kita di belakang Rani dalam cermin itu. Aku heran kenapa yang muncul pak Wahyu, apa mungkin Rani takut sama pak Wahyu perasaan pak Wahyu guru yang baik dan tidak termasuk golongan guru killer di sekolahku.

"Ran, kamu takut pak Wahyu?" Tanya Kiki.
"Enggak kok." Jawab Rani.
"Terus itu kenapa muncul pak Wahyu." Kiki bertanya kembali dengan penasaran.
"Mana aku tahu, cerminnya eror kali."

Hal yang lebih mengejutkan terjadi, Pak Wahyu memeluk Rani dan mereka mulai berciuman. Yang lebih parah Rani mulai membuka bajunya. Anehnya, bayangan Rani di cermin itu tampak menangis.

Aku dan Kiki terdiam bagai patung tak bisa bicara apa-apa. Rani akhirnya berpaling dari cermin itu dan gambaran di cermin seketika memudar.

"Apaan itu tadi Ran. Kamu punya hubungan dengan pak Wahyu?" Kiki bertanya dengan wajah yang kaget.
"Eng... Eng... Enggak lah" Jawab Rani dengan terbata-bata.
"Terus tadi itu apa?"
"Mana aku tahu, tanya sendiri ke cerminnya"

Rani pergi meninggalkan kita berdua bersama cermin itu. Aku dan Kiki masih tidak percaya dengan apa yang barusan kita lihat. Aku pun memutuskan untuk kembali menutup cermin itu dengan kainnya.

Malam ini sangat sunyi, Rani mengurung diri di kamar. Aku dan Kiki di ruang tamu hanya terdiam. Aku mencoba berpikir positif, mungkin cermin itu hanyalah cermin aneh dan apa yang ditampilkan tidak selalu benar, tapi kenapa cermin itu bisa tahu hewan yang ditakuti aku dan Kiki.

Aku masuk ke kamar, tampak Rani sedang melamun dekat jendela. Aku dan Rani sudah berteman sejak SMP, dia adalah sahabat terbaikku tapi malam ini untuk menyapa saja aku canggung, seperti baru kenal.

"Hei Ran, belum tidur?"
"Belum Din, kamu tidur aja duluan kalau udah ngantuk, besok kita kan jalan-jalan ke kebun lagi"

Aku bersyukur Rani sepertinya tidak marah kepadaku padahal aku merasa bersalah karena aku yang munyuruhnya bercermin. Tapi, aku merasa melihat Rani yang berbeda setelah ia bercermin di cermin gila itu.

Paginya kami sarapan seperti biasa. Setelah sarapan aku berniat mengajak Rani bicara untuk memperbaiki keadaan karena cermin itu dan meyakinkan Rani kalau gambaran di cermin itu bukan apa-apa. Tapi, Rani hanya sarapan sedikit dan langsung pergi ke kamar. Aku yang mencoba menganggap apa yang ditunjukkan cermin itu tidak ada apa-apanya jadi merasa ragu, sikap Rani berubah dan aku yakin gambaran di cermin itu berarti sesuatu baginya.

"Din, jadi enggak nih kita ke kebun?" Kiki mengejutkanku yang sedang melamun.
"Oh ya, iya jadilah." jawabku.

Rani memutuskan tidak ikut karena merasa tidak enak badan. Kami pun pergi berdua ke kebun.

Di kebun;

"Din, si Rani enggak apa-apa tuh?"
"Enggak tahu, kayanya ada yg berbeda dari dia setelah melihat apa yang terjadi di cermin itu."
"Ya udah kita balik aja lah besok."
"Loh kenapa, kita kan rencananya 5 hari disini? Masa cuma gara-gara cermin liburan kita keganggu sih."
"Ya, habis gimana lagi, si Rani udah enggak betah kayanya."

Dengan terpaksa kita memutuskan balik ke kota besok.

Di malam terakhir di kampung ini aku enggak bisa tidur entah kenapa. Kiki dan Rani sudah tidur dan aku malah mondar-mandir di rumah ini sampai aku tak sengaja melihat kamar tempat cermin itu terbuka. Aku memutuskan masuk ke kamar itu dan melihat cermin aneh itu masih tertutup kain. Aku tak bisa melawan keinginanku untuk kembali bercermin di cermin itu. Untuk kedua kalinya aku bercermin di cermin itu. Aku sudah mengantisipasi semua hal yang mungkin akan ditunjukkan cermin itu padaku. Bayanganku mulai bergerak, ditangannya tiba-tiba ada silet lalu bayanganku mulai menyayat urat nadinya. Aku langsung menutup kembali cermin itu dengan kain lalu menyimpannya ke gudang.

Gambaran di cermin itu mengingatkanku akan sesuatu. Saat kelas 3 SMP aku pernah sekali mencoba bunuh diri. Saat itu keadaan ekonomi keluarga sedang terpuruk, ayahku terkena kasus korupsi. Aku yang menjadi murid pendiam di sekolah menjadi bahan bully-an, padahal pada awalnya sebenarnya aku bukan tipe murid target bullying. Untungnya saat itu aku berhasil di selamatkan dan yang tahu kejadian itu hanya ayah dan ibuku sementara teman-temanku termasuk Rani tidak tahu karena orang tuaku memberi tahu sekolah kalau aku sakit.

Yang lebih mengagetkanku lagi cara aku mencoba bunuh diri dulu sama dengan apa yang diperlihatkan cermin itu. Aku mulai menyadari kalau cermin itu bukan hanya menunjukkan apa yang ditakuti oleh kita.

Aku langsung pergi ke kamar, berbaring di tempat tidur dan mencoba melupakan apa yang sudah terjadi. Tapi, aku mulai memikirkan gambaran yang ditunjukkan cermin itu pada Rani. Aku mulai yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Rani.

Aku bangun kesiangan, sekitar jam 9 aku baru bangun. Aku melihat Rani duduk termenung di tempat tidur.

"Din, kamu baru bangun?" Tanya Rani perlahan, ia seperti habis menangis.
"Iya nih, duh kesiangan."
"Din, kamu ingin tahu kan kenapa nilai-nilaiku bagus. Jawabannya yang ditunjukkan cermin itu."
"Maksud kamu apaan?"
"Aku melakukan sesuatu untuk pak Wahyu, sebenarnya bukan cuma pak Wahyu tapi juga beberapa guru yang lain."
"Jangan bilang kalau kamu..."
"Iya, Din aku bingung, aku enggak mau ngecewain orang tua aku kalau nilaiku sampai jeblok dan tidak bisa masuk universitas favorit."
"Kalau orang tua kamu tahu semua ini mereka bakalan lebih kecewa dari pada kamu gagal masuk universitas favorit."
"Iya aku tahu, makanya tolong jangan kasih tahu siapa-siapa ya."
"Masalahnya bukan aku, tapi Kiki. Apa ia mau menyimpan rahasia ini"
"Kalem aja kali." Kiki tiba-tiba datang dari balik pintu.
"Kita bertiga kan udah dari SMP sekelas masa aku tega ngebongkar aib kamu, Ran."

Sorenya kami kembali ke Jakarta. Aku tidak bilang ke siapa-siapa tentang cermin itu meskipun aku sebenarnya ingin bertanya pada nenek tapi aku urungkan niat itu.

Baca cerita selanjutnya => Cerbung: Cermin [Part 2]

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerbung: Cermin [Part 1]"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel