Cerbung: Cermin [Part 2]

Cermin.jpg

Baca cerita sebelumnya => Cerbung: Cermin [Part 1]

Besok aku masih libur, aku mulai kuliah masih cukup lama. Malam ini aku masih teringat kejadian di kampung sekeras apapun aku melupakannya dan mengganggap semua itu tidak pernah terjadi. Aku tidur cukup larut sekitar jam 1 aku baru tidur.

Aku bangun subuh sekitar jam setengah 5 dan aku masih ngantuk. Ibu masuk ke kamar mencoba membangunkanku untuk salat tapi aku masih sangat mengantuk. Setelah ibu keluar kamar aku mencoba untuk bangun meskipun mata ini baru setengah terbuka. Saat aku beranjak dari tempat tidur alangkah terkejutnya aku melihat cermin aneh dari kampung itu ada di kamarku. Aku yang tadinya masih mengantuk langsung melek, aku bingung kenapa cermin itu ada di kamarku. Awalnya aku berniat memanggil orang tuaku dan menanyakan siapa yang menaruh cermin ini disini tapi aku tidak ingin menjelaskan tentang cermin ini pada mereka dan membuat mereka mengalami hal-hal aneh yang aku alami. Aku pun memutuskan menyimpan cermin itu di bawah tempat tidurku.

Siangnya ketika orang tuaku sedang tidak ada di rumah aku menelepon Rani dan Kiki untuk datang. Rani dan Kiki pun tampak terkejut dan takut melihat cermin itu.

"Aku yakin ini bukan cermin biasa, ini cermin pasti ada apa-apanya." Ucapan Kiki membuat Rani yang penakut semakin panik.
"Emang ini kan bukan cermin biasa, cermin mana coba yang membuat bayangan kita bergerak?" Aku juga ikutan panik.
"Maksudku ini cermin pasti ada unsur supranaturalnya, semacam ada penunggunya gitu."
"Lah terus ini gimana dong aduh, masa kita harus balikin cermin ini ke kampung, aku gak mau ah." Rani juga ikut panik.
"Bagaimana kalau kita buang aja cermin ini." Aku memberikan saran.
"Percuma Din, barang-barang kaya gini di apa-apain juga enggak bakal mempan." Kiki meragukan saranku.
"Ya di coba aja, kalau perlu kita hancurin cermin ini" Aku memaksa.

Akhirnya kita memutuskan menghancurkan cermin itu walaupun Kiki tetap bersikeras itu akan sia-sia. Kita mulai menghancurkan cermin itu dengan palu sampai pecah lalu bingkainya kita bakar.

Anehnya walaupun aku melihat dengan mata ku sendiri aku menghancurkannya rasanya cermin itu masih ada. Cermin itu seperti hidup dan mengikuti setiap langkahku.

Besoknya aku bangun pagi-pagi sekali, aku takut cermin itu akan datang lagi. Tapi, syukurlah cermin itu tidak nampak di bagian mana pun dari kamarku. Meskipun rasanya masih ada yang aneh tapi aku mencoba menganggap saranku untuk menghancurkan cermin itu berhasil.

Malamnya aku mencoba tidur dengan tenang. Tapi, sekitar jam setengah dua aku terbangun, aku merasakan ada yang bergerak di bawah tempat tidurku. Perasaanku mulai tek enak, aku mulai teringat dengan cermin aneh itu lagi. Aku memberanikan diri melihat apa yang ada di bawah tempat tidurku tapi sebelum aku melihatnya muncul sesuatu dari bawah tempat tidurku, aku tidak melihatnya dengan jelas karena lampu dalam keadaan mati namun sepertinya itu adalah sebuah tangan. Aku segera menghidupkan lampu dan benar saja itu adalah sebuah tangan berlumuran darah, aku berteriak dan berlari keluar kamar. Kedua orang tuaku dan adikku terbangun dan menanyakan apa yang terjadi.

"Din, ada apa?" Tanya ayahku.
"Itu di bawah tempat tidur ada tangan." Aku menjawab sambil memeluk ibuku karena ketakutan.

Ayahku memeriksanya namun tidak ada apa-apa di sana. Aku masih ketakutan, Aku memutuskan tidur di kamar adikku dengan lampu menyala.

Besoknya aku dibangunkan oleh ibuku. Aku melihat ibuku membangunkanku dengan raut wajah yang sedih, ibuku memberitahuku kalau Kiki meninggal dalam kecelakaan. Aku tertegun, aku tak percaya apa yang ku dengar. Kiki adalah sepupu dan salah satu sahabat terbaikku, sedih rasanya mengetahui seseorang yang dekat denganku harus pergi.

Aku menghadiri pemakaman Kiki namun aku tak melihat Rani, aku penasaran kenapa dia tidak datang, apa mungkin ia tidak tahu, ah tidak mungkin ia tidak tahu padahal teman-teman Kiki di sosial media memposting kabar kematian Kiki mana mungkin Rani yang sering buka sosial media tidak tahu.

Setelah pulang dari pemakaman Kiki aku berencana pergi menemui Rani untuk menanyakan kenapa ia tidak datang. Sesampainya di rumah Rani, aku  di sambut oleh ibunya. Ternyata Rani memang mengetahui kematian Kiki. Ibunya menceritakan semalam Rani teriak-teriak enggak jelas, ia mengaku melihat sesosok wanita di kamarnya. Setelah itu ia tidak tidur dan terus menangis, paginya kami dapat kabar kalau Kiki meninggal, setelah mendengar Kiki meninggal Rani langsung pergi ke kamar dan belum keluar sampai sekarang. Aku memanggil Rani perlahan dari luar kamarnya.

"Ran, ini aku Dini. Boleh aku masuk." Aku mencoba membujuk Rani agar kami bisa bicara.
"Masuk aja." Rani menjawab dengan suara yang jelas terdengar seperti orang habis menangis.

Aku membuka pintu dan melihat Rani duduk di atas tempat tidurnya. Wajahnya pucat, terlihat jelas ia seperti sudah menangis hebat. Air mata terlihat masih sedikit mengalir dari matanya.

"Ran, kamu kenapa enggak datang ke pemakaman Kiki?"
"Aku enggak bisa datang ke sana"
"Kenapa?"
"Aku tadi malam melihat penampakan seorang..."
"Iya, ibu kamu tadi cerita sama aku, aku juga mengalami hal yang sama seperti kamu, melihat hal yang mengerikan." Aku memotong pembicaraan Rani karena aku tidak mau dia menceritakan hal yang ia takuti.
"Bukan cuma itu Din, si wanita yang aku lihat semalam ngomong sesuatu sama aku, dia bilang "seharusnya kamu yang mati bukan dia", lalu paginya aku dapat kabar Kiki meninggal dan aku tahu "dia" yang dimaksud penampakan wanita semalam itu Kiki"
"Kenapa harus kamu yang mati?"
"Aku enggak tahu Din, tapi aku merasa bersalah atas kematian Kiki."
"Kamu enggak salah apa-apa kok."
"Din, apa ini masih ada sangkut pautnya sama cermin itu?"
"Enggak lah, cerminnya kan udah hancur kamu tenang aja." Aku sebenarnya juga merasa semua ini ada kaitannya dengan cermin itu namun aku mencoba menenangkan Rani dan tidak membuatnya semakin stres.

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Rani aku terus memikirkan cermin itu. Aku semakin yakin menghancurkan cermin itu bukanlah solusi untuk mengatasi terornya. Sesampainya di rumah dan masuk kamar aku teringat kejadian semalam, aku jadi agak takut masuk kamarku sendiri. Tapi, rasa takutku dibarengi rasa penasaran untuk melihat ke bawah tempat tidurku, tempat dimana semalam aku melihat penampakan tangan itu. Saat aku melihatnya ternyata cermin itu berada di bawah tempat tidurku.

Aku terkejut, muak dan takut ketika melihat cermin itu. Kenapa hidupku diganggu terus oleh cermin itu, padahal aku hanya bercermin tidak melakukan hal-hal aneh dengan cermin itu. Aku mencoba menganggap cermin itu tidak ada di bawah tempat tidurku, mungkin cermin itu hanya ingin ada didekatku, asalkan tidak ada lagi orang yang bercermin di cermin itu sepertinya semuanya akan baik-baik saja. Semoga saja.

Nyatanya tidak semudah itu, cermin itu hampir setiap malam menerorku dengan suara dan penampakan mengerikan. Seminggu pertama aku merasa seperti akan menjadi orang gila diteror terus oleh cermin itu namun semakin kesini aku mulai terbiasa. Suara dan penampakan yang disajikan cermin itu untukku nyatanya tidak ada yang membahayakanku, sepertinya hanya untuk menakuti dan menyerangku secara psikis namun tidak mempan.

Sampai suatu siang ibu dan ayahku sedang pergi keluar, di rumah hanya ada aku, adikku dan teman-temannya yang sedang bermain petak umpet. Aku sedang asyik main laptop di ruang tengah tiba-tiba terkejut mendengar adikku berteriak dari dalam kamarku. Aku langsung menghampirinya dan aku melihat dia sedang menangis sementara di lantai aku melihat cermin mengerikan itu. Sepertinya adikku bercermin di cermin itu. Teman-teman adikku juga datang menghampiri namun aku menyuruh mereka semua pulang. Adikku berkata kalau cermin itu aneh, aku sudah tahu ia pasti melihat sesuatu yang ia takuti saat bercermin namun aku tak ingin membicarakannya lebih jauh dengan adikku, ia juga masih kecil tidak akan kuat menerima keanehan cermin itu. Aku menjelaskan kepada adikku kalau cermin itu hanya cermin mainan dan aku menyuruhnya untuk tidak menceritakan tentang cermin itu kepada siapapun. Aku sebenarnya khawatir, dia masih kecil dan polos bisa saja keceplosan bicara kepada seseorang tentang cermin itu tapi mau bagaimana lagi aku hanya berharap dia tetap diam tentang cermin itu.

Cerobohnya aku membiarkan cermin itu berada di bawah tempat tidurku. Aku mulai memikirkan untuk menaruh cermin itu ditempat yang lebih aman, aku mencoba menguburnya di sekitar rumahku, semoga cermin itu tidak tiba-tiba muncul lagi di kamarku. Lagi pula aku menguburnya bukan menghancurkannya. Tapi perkiraanku salah, besok paginya cermin itu muncul lagi di kamarku, mungkin cermin itu ingin berada di dalam rumah. Aku lalu menaruh cermin itu di loteng, aku tidak kepikiran lagi tempat aman di rumahku selain di sana, karena setahuku bagian loteng adalah bagian yang tidak banyak di masuki orang di rumahku, sepertinya di rumah orang lain juga begitu.

Aku mulai terbiasa dengan semua gangguan yang aku alami setiap malam akibat ulah cermin itu. Suara wanita menangis, bayangan wanita dan gangguan lainnya menjadi pengantar tidurku setiap malam.

Di suatu pagi, Rani tiba-tiba meneleponku dan menyuruhku untuk datang ke rumahnya. Semenjak kematian Kiki, aku dan Rani memang tidak lagi berkomunikasi. Aku sibuk dengan cermin itu sementara Rani sepertinya masih terus menutup diri dan bersedih, terdengar jelas saat ia meneleponku suaranya tidak terdengar ceria.

Di rumah Rani sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuanya sedang keluar. Rani masih dengan wajah sedihnya.

"Din, makasih udah datang." Ia berkata dengan nada yang seperti orang panik.
"Santai aja Ran, ada apa sih? Kamu masih memikirkan kematian Kiki? Atau kamu diteror setiap malam?"
"Enggak, aku enggak mikiran kematian Kiki. Aku juga enggak di teror kok"
"Terus kenapa kamu kelihatan sedih, kamu lagi ada masalah ya? Apa ini ada kaitannya sama yang kamu lakuin buat guru-guru di sekolah?"
"Udahlah, aku minta kamu ke sini karena mau ngasih tahu kamu sesuatu. Setelah kemunculan wanita itu di kamarku pas malam kematian Kiki, aku tidak mengalami hal aneh lagi, sampai beberapa malam belakangan ini wanita itu muncul lagi. Wanita itu muncul di mimpi atau menampakkan dirinya, yang pasti ia berkata hal yang sama seperti saat malam Kiki meninggal. Din, aku takut ada yang akan meninggal lagi."

Aku merenung sejenak, sekarang siapa yang akan mati. Aku mencoba berpikir siapa lagi yang tahu cermin itu selain aku, Rani dan Kiki. Aku baru ingat adikku, aku langsung pamit sama Rani tanpa mengatakan apa yang ada di pikiranku. Rani juga pasti curiga aku tahu siapa yang akan menjadi korban kali ini. Sepanjang perjalanan pulang aku berharap apa yang kupikirkan salah, bukan adikku yang menjadi korbannya. Sesampainya di depan rumah aku melihat gerombolan orang sedang berkumpul, aku lalu turun dan menghampiri mereka. Aku langsung lemas ketika melihat adikku tewas bersimbah darah tertabrak sebuah mobil dan mobilnya kabur entah kemana.

Aku benar-benar marah pada diriku sendiri, aku menganggap semua ini salahku. Malamnya seperti biasa penampakan wanita itu datang lagi, kini dengan kemarahanku aku bangun dari tempat tidur lalu berteriak "Bajingan kamu, ini gara-gara kamu" pada penampakan itu. Ibuku masuk ke kamar dan menyalakan lampu, penampakan wanita itu menghilang. Ibuku melihatku menangis dan langsung memelukku.

Polisi datang ke rumahku untuk mengecek kamera CCTV depan rumah karena si pelaku dan mobilnya belum ditemukan. Mungkin ini kecelakaan tak disengaja tapi si pengendara harus tetap bertanggung jawab. Namun saat melihat rekaman CCTV kami semua kebingungan, saat momen kejadian adikku tertabrak kamera CCTV tiba-tiba eror dan alhasil mobil si pelaku tidak berhasil terekam. Ternyata bukan hanya CCTV di rumahku saja, CCTV tetanggaku yang mengarah ke tempat kejadian juga eror. Aku semakin yakin ini bukan kecelakaan biasa yang disebabkan manusia.

Nenek datang dari kampung ke rumahku untuk melayat tapi nenek hanya 1 hari di rumahku dan aku tidak sempat bertemu dengannya karena aku mengurung diri di kamar. Aku sebenarnya ingin bertanya pada nenek tentang cermin itu tapi aku tidak mau menanyakannya di rumahku jadi selang beberapa hari nenek pulang ke kampung aku pergi ke kampung juga, aku beralasan pada orang tuaku ingin menemui nenek karena belum sempat menemuinya di sini dan juga ingin menenangkan pikiran. Padahal sebenarnya aku ingin menanyakan perihal cermin gila itu pada nenek agar tidak ada lagi korban selanjutnya.

~~~~~

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Cerbung: Cermin [Part 2]"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel