Kisah Targis Junko Furuta Disiksa Selama 44 Hari

Kisah Junko Furuta.jpg

Menjadi idola di sekolah adalah impian setiap wanita namun tak selamanya menjadi idola akan mambawa keberuntungan, kadang bisa menjadi kesialan. Junko Furuta adalah idola di sekolahnya karena kecantikannya. Selain cantik, ia juga adalah wanita baik-baik.

Junko lahir pada 18 Januari 1971 di Misato, Saitama, Jepang. Ia tinggal bersama ibu serta kedua saudaranya dan bersekolah di Yashio-Minami High School. Ia bekerja paruh waktu setelah jam sekolah usai.

Di sekolah yang sama ada Hiroshi Miyano, seorang murid nakal yang punya koneksi dengan salah satu sindikat terorganisir di Jepang, Yakuza. Kelompok ini memang ditakuti di Jepang bahkan seluruh dunia mengenal Yakuza sebagai kelompok mafia terbesar di Jepang.

Karena hubungannya dengan Yakuza, Hiroshi ditakuti di sekolahnya. Semua yang ia inginkan di sekolah selalu ia dapatkan. Hiroshi ternyata menaruh perasaan terhadap Junko, namun ketika ia menyatakannya, Junko menolaknya karena Junko sedang tidak ingin memiliki pacar. Sebenarnya Junko bukanlah tipe wanita yang disukai para remaja-remaja bermasalah yang memiliki kaitan dengan Yakuza seperti Hiroshi. Pada umumnya remaja-remaja seperti Hiroshi lebih menyukai wanita-wanita nakal yang suka mabuk-mabukan, menghisap rokok, dan memakai narkoba, tak jauh beda lah dengan sifat mereka sendiri, namun Junko sepertinya pengecualian bagi Hiroshi.

Pada tanggal 25 November 1988, Hiroshi dan temannya Nobuharu Minato berkeliaran di sekitaran Misato untuk merampok dan memperkosa wanita lokal. Mereka berdua kemudian melihat Junko yang menaiki sepeda dalam perjalanan pulang pada pukul 20.30 dari pekerjaan paruh waktunya. Nobuhara kemudian menendang sepeda Junko lalu kabur, semua itu ia lakukan atas perintah Hiroshi. Lalu Hiroshi datang dan berpura-pura membantu Junko kemudian menawarkannya untuk menemani pulang dengan aman. Tanpa Junko sadari ia dibawa ke sebuah gudang dan diperkosa oleh Hiroshi disana kemudain sekali lagi di hotel.

Junko kemudian memanggil Nobuharu dan kedua temannya, Jo Ogura/Kamisaku dan Yasushi Watanabe. Mereka kemudian mengancam jika Junko berusaha melarikan diri maka Yakuza akan membunuh keluarga Junko dan mereka sudah tahu alamat tinggal Junko, mereka mengetahuinya dari buku catatan di tas Junko. Mereka kemudian membawa Junko ke rumah orang tua Nobuharu di distrik Ayase di kota Adachi. Kepada orang tua Nobuharu, Junko dipaksa mengaku sebagai pacar salah satu dari mereka. Orang tua Nobuharu sebenarnya ragu namun memilih membiarkannya karena takut dengan Yakuza ditambah Nobuharu juga anak yang kerap bersikap kasar pada orang tuanya.

Orang tua Junko kemudian menelepon polisi karena putrinya tak kunjung pulang. Namun, Junko kemudian menelepon orang tuanya dan mengaku untuk sementara tinggal di rumah temannya. Ia juga menyuruh polisi untuk menghentikan pencarian. Tentu saja Junko mengatakan semua itu atas paksaan Hiroshi dan teman-temannya.

Selama 44 hari disekap di rumah tersebut Junko disiksa melewati batas nalar manusia normal seperti kita. Bahkan hewan pun tak pantas di perlakukan seperti itu.

Laporan resmi pengadilan Jepang mencatat penyiksaan dengan mendetail yang dinarasikan ulang oleh media massa setempat. Salah satunya tertuang dalam buku William Webb yang bertajuk Murder Under the Rising Sun: 15 Japanese Serial Killers That Terrified a Nation.

Junko diperkosa, yang menurut persidangan kasus ini, sebanyak lebih dari 400 kali. Ia hampir setiap saat dipukuli. Tubuhnya digantung di atas plafon dan diperlakukan seperti samsak. Perutnya kadang dihantam barbel.

Ia dibuat kelaparan, tapi juga dipaksa makan kecoa hidup atau meminum air kencingnya sendiri. Beberapa bagian tubuhnya dibakar, termasuk ditempeli lilin panas di kelopak mata. Bagian tubuh lain juga dimutilasi.

Dalam kondisi yang sedemikian brutal, ia tetap dipaksa untuk bermasturbasi di hadapan para pelaku. Kemaluan dan anusnya dimasuki berbagai benda dan mengakibatkan pendarahan yang hebat. Ia turut kehilangan kemampuan mengontrol kandung kemih dan buang air besar.

Kurang lebih 16 hari masa penyekapan Junko, ada seorang pria yang diintimidasi oleh para pelaku untuk memperkosa Junko melaporkan insiden itu ke saudaranya. Saudaranya pun meminta orang tuanya untuk memanggil polisi dan memeriksa rumah Nobuharu. Tapi dua polisi yang bertugas mengatakan tak ada gadis di rumah Nobuharu. Kedua polisi itu ternyata tak memeriksa isi rumah tersebut dengan benar dan serius. Pada akhir kasus ini kedua polisi tersebut dipecat karena tak menjalankan tugas sesuai dengan prosedur.

Pada Desember 1988, setelah satu bulan berada dalam penyekapan, Junko sempat mencoba menelpon pihak kepolisian. Upayanya gagal karena ketahuan oleh salah seorang pelaku. Junko kemudian dihukum lagi-lagi dengan cara dibakar.

Junko sampai meminta agar dirinya dibunuh saja agar penderitaannya berakhir. Namun, para pelaku menolak dan malah memaksanya tidur di balkon. Padahal, saat itu musim dingin.

Junko bukan hanya disiksa oleh keempat lelaki itu, tapi para pelaku juga kerap mengundang teman-teman Yakuza-nya untuk turut memperkosa dan menyiksanya. Pernah suatu ketika ia diperkosa oleh 12 pria berbeda dalam sehari.

Memasuki Januari, penyiksaan demi penyiksaan membuat kondisi fisik Junko berubah. Luka-luka di sekujur tubuhnya mulai membusuk dan menghasilkan bau tak sedap. Para pelaku kehilangan nafsu bejatnya dan sempat mencari korban lain meski tidak disekap seperti Junko.

Pada 4 Januari 1989 kondisi fisik Junko sudah hancur lebur. Merujuk catatan Kenji Nakano untuk Tokyo Reporter, Junko meninggal dunia setelah mendapat penyiksaan selama kurang lebih dua jam. Junko disiksa lantaran memenangkan permainan mahyong melawan para pelaku pada hari itu.

Para pelaku kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut, menempatkannya di drum bervolume 208 liter, dan mengisinya dengan semen basah. Pada pukul 20.00, mereka membawa drum tersebut ke sebuah daerah bernama Koto di Tokyo, kemudian membuangnya ke dalam truk semen.

Pada 23 Januari 1989, Hiroshi dan Jo ditangkap karena kasus pemerkosaan. Dari penangkapan mereka berdua kasus Junko akhirnya berhasil terungkap. Keempat tersangka dalam kasus Junko akhirnya ditahan.

Berdasarkan identifikasi sidik jari, drum yang berisi jenazah Junko ditemukan pada 30 Maret 1989, lokasi penemuan jenazah Junko kini bernama Taman Wakasu. Tak lama berselang, pengadilan atas kasus ini dimulai dengan mendatangkan seluruh pelaku, termasuk Hiroshi selaku inisiator. Pihak berwenang sempat ingin merahasiakan identitas para pelaku karena masih di bawah umur namun majalah Shukan Bunshun menerbitkan nama-nama pelaku, pihak majalah mengatakan "hak asasi tidak dibutuhkan oleh penjahat biadab".

Junko Furuta dan Para Pelaku.jpg
Junko Furuta dan para pelaku

Jika kalian merasa merasa hukum dagelan hanya terjadi di Indonesia saja maka kalian salah. Dalam kasus pembunuhan Junko ini keempat pelaku mendapat hukuman yang tergolong ringan dengan alasan pelaku masih dibawah umur. Hiroshi dihukum paling berat yakni 20 tahun, sementara yang lainnya hanya 7 tahun. Dengan hukuman ringan tersebut maka para pelaku sudah bebas saat ini. Keadilan macam apa ini!

Usai bebas, beberapa pelaku masih saja bikin masalah. Ada yang menggawangi kasus penipuan, ada juga yang menjadi tersangka kasus penganiayaan. Mereka diamankan oleh pihak keamanan dan kembali meringkuk di balik penjara. Nobuharu, misalnya, pada pertengahan Agustus 2018 ditangkap atas kasus pemukulan terhadap seorang karyawan perusahaan di kota Kawaguchi. Ia juga menyayat leher korban dengan sebilah pisau. Polisi menetapkannya sebagai tersangka percobaan pembunuhan. Rupanya ia tidak mau tak belajar dari masa lalu. Hanya Yasushi yang mulai merubah sikap dan belajar menghindari masalah hukum.

Ada juga yang menilai bahwa orang-orang seperti Hiroshi dan teman-temannya seharusnya dipenjara seumur hidup. Mereka dianggap tidak pantas untuk hidup tengah-tengah masyarakat Jepang, sebagian masyarakat bahkan menganjurkan agar dihukum mati.

Ibu Hiroshi sempat menjual rumahnya dan memberikan uang hasil penjualan rumahnya sebesar Rp. 50 miliar kepada ibu Junko sebagai kompensasi, namun nyawa dan penderitaan Junko tidak terbayarkan oleh nominal uang berapapun.

Junko Furuta dimakamkan pada 2 April 1989. Keluarga dan teman-teman dekatnya hadir di sana, larut dalam kesedihan yang mendalam. Kisah tragis Furuta kemudian abadi dalam novel, film, hingga lagu.

Referensi:
www.wikipedia.org
www.tirto.id
www.grid.id
www.jogja.tribunnews.com
www.m.suara.com
www.japanesestation.com
www.samsaranews.com
www.m.kaskus.co.id
www.chillinaris.blogspot.com

Sumber gambar:
www.pixabay.com
www.japanesestation.com

Keywords: Junko Furuta, Kisah, Film, Movie, Informasi Lengkap, Anime, Manga, Cerita Sadis, Komik

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kisah Targis Junko Furuta Disiksa Selama 44 Hari"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel