Kisah-Kisah Kanibalisme Terkenal dari Seluruh Dunia

Kisah Kanibalisme.jpg

Kanibalisme adalah aktivitas makhluk hidup memakan mahkluk hidup sejenis, contohnya seperti anjing memakan anjing dan manusia memakan manusia. Pelaku kanibalisme disebut seorang kanibal. Aktivitas ini memang menjijikkan dan sudah dianggap sebuah aktivitas yang buruk dan menyalahi kodrat, khususnya bagi manusia. Tak heran di dunia modern sekarang kanibalisme sudah ditinggalkan.

Kadang-kadang aktivitas ini disebut anthropophagus (Bahasa Yunani anthrôpos, "manusia" dan phagein, "makan"). Secara etimologis kata "kanibal" merupakan kata pungutan dari Bahasa Belanda yang pada gilirannya memungut dari Bahasa Spanyol; “canibal” yang berarti orang dari Karibia. Di daerah ini oleh penjelajah ditemukan aktivitas ini.

Nyatanya, dari dulu sampai sekarang, kanibalisme masih tetap eksis meskipun tentu saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Banyak alasan seseorang melakukan kanibalisme, ada yang karena kelainan jiwa, penasaran rasa daging manusia, sebagai syarat memperkuat ilmu hitam, sampai ada juga yang melakukannya dengan terpaksa agar bisa tetap hidup.

Berikut Kisah-Kisah Kanibalisme Terkenal dari Seluruh Dunia


Kisah Kanibalisme Sumanto


Bagi kita orang Indonesia, jika berbicara mengenai kanibalisme maka otomatis pikiran kita akan tertuju pada seorang pria bernama Sumanto. Kenapa? Karena dia adalah pelaku kanibalisme paling menggemparkan di negara ini. Lantas, siapa itu Sumanto?

Sumanto mulai dikenal setelah melakukan aksi kenibalisme. Ia mengaku sudah memakan 3 manusia. Motifnya adalah untuk mempelajari ilmu hitam yang mana mengharuskan Sumanto memakan 7 orang namun ia baru memakan 3 orang saat ditangkap. Selain motif mempelajari ilmu hitam beberapa hal diduga juga menjadi pemicu aksi Sumanto seperti kemiskinan dan gangguan jiwa.

Sumanto mempelajari ilmu hitam dari Taslim ketika ia berada di Lampung. Kesempurnaan ilmu akan tercapai jika sudah menyantap 7 manusia. ”Tahun 1988, saya merantau ke Sumatera dan bekerja serabutan. Kemudian, beberapa lama di sana, saya kenalan dengan Taslim yang sekaligus menjadi guru saya. Agar menemukan kedamaian yang abadi dan bisa menghidupkan orang mati, Taslim meminta agar saya makan 7 orang. Terus, kalau ingin lebih hebat lagi agar memakan 21 orang. Kalau masih pingin lebih hebat lagi, harus memakan 41 orang. Saya sendiri memilih yang 7 orang,” kata Sumanto.

Ia memakan dua orang korbannya ketika ia bekerja di Lampung. Korban pertama adalah rekan seperantauan, dan yang kedua adalah penjahat yang akan merampoknya. Setelah dibunuh, mayat ditarik ke tengah perkebunan. Sebelum disantap, korban dikuliti lebih dahulu. Mayat satu orang itu dihabiskannya dalam waktu sehari semalam. Hanya tulang dan organ dalam yang tidak disentuh dan dibiarkan membusuk di tengah rimbunnya pohon tebu. Yang ketiga adalah Mbah Rinah, warga Desa Srengseng Kecamatan Kemangkon, yang dicurinya dari kuburan, 16 jam setelah pemakamannya.

”Sebenarnya, mayat Mbah Rinah akan dihabiskan malam itu, tapi hari sudah keburu siang. Setelah terdengar azan subuh saya bungkus kembali dengan karung lalu saya kubur di depan rumah, takut ketahuan orang,” kata manusia kanibal itu. Sumanto makan daging mayat Mbah Rinah dengan tujuan agar arwahnya bisa hidup kembali. Berdasarkan pengakuannya, sekarang ini, Mbah Rinah hidup di dalam tubuh Sumanto.

Lalu, bagaimana rasa daging manusia menurut Sumanto? Menurutnya, daging manusia tidak enak, berbau menyengat dan terlalu banyak lemak. Lebih enak daging anjing, tikus, atau kucing. Namun, keunggulannya setelah makan daging manusia hatinya terasa lebih tenteram.

Setelah membongkar serta mengobrak-abrik seluruh isi rumah Sumanto, polisi menemukan tulang belulang manusia. Seperti tengkorak manusia, tulang kaki, tangan, tulang iga, dan sebagainya. Sebagian dijadikan bantal untuk tidur sebagian lagi disimpan di kolong tempat tidur. ”Bau khas tulang manusia membuat hati saya tenteram dan bisa tidur nyenyak,” kata Sumanto.

Baca juga: Sumanto, Kanibal dari Indonesia

Kisah Kanibalisme Mansur dari Jambi


Jika kalian pikir cerita kanibalisme di Indonesia hanya Sumanto saja, maka kalian salah. Di negera ini ada kisah kanibalisme lain, meskipun tidak semenggemparkan kisah Sumanto, tapi ini tetaplah kanibalisme.

Pada November 2017, terjadi sebuah pembunuhan yang berlanjut pada tindakan kanibalisme di Jambi. Sang pelaku bernama Terosman alias Mansur alias Kete Bin Jaman adalah seorang penjaga dan tukang panen buah sawit yang tega membunuh sang majikan bernama Dasrullah.

Motif pembunuhan tersebut adalan dendam karena kesepakatan terkait gaji yang awalnya disepakati kedua orang tersebut dilanggar oleh sang majikan. Awlanya, korban berkata kalau akan menggaji Mansur Rp2 juta per bulan namun pada kenyataannya Mansur hanya menerima Rp200 ribu per ton buah sawit.

Setelah bekerja kurang lebih 4 tahun di perkebunan sawit tersebut, Mansur sudah muak dan memutuskan membunuh sang majikan dengan cara membacok perut sang majikan di bagian perut.

Entah setan apa yang merasuki Mansur, ia kemudian memotong kemaluan sang majikan dan dimasak untuk selanjutnya dimakan dengan nasi. Karena aksi sadis dan kanibalismenya, Mansur diganjar pidana seumur hidup.

Kisah Kanibalisme Armin Miewes


Armin Meiwes sering mengunjungi situs di internet bernama The Cannibal Cafe yakni sebuah situs atau forum tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki fetish terhadap kanibalisme. Fetish adalah kondisi dimana seseorang akan melakukan hal tertentu untuk memenuhi hasrat dan nafsu seksualnya. Fetish setiap orang berbeda-beda tapi kebanyakan yang normal, nah orang-orang yang mengunjungi The Cannibal Cafe adalah orang yang akan merasa terangsang ketika melihat manusia memakan daging manusia atau dia sendiri yang memakan daging manusia atau bahkan dagingnya sendiri yang dimakan orang lain.

Sejak berusia 8 tahun Meiwes telah memiliki fantasi untuk memakan teman sekolahnya. Fantasi ini memenuhi pikirannya setiap malam, dia bahkan pernah berniat untuk menculik dan menyerang seseorang untuk dijadikan korban. Namun ia tidak jadi melakukannya.

Untuk memenuhi fantasinya itu akhirnya ia membuat sebuah iklan di internet termasuk di situs The Cannibal Cafe yang mana isi iklan tersebut adalah mencari seseorang berusia 18-30 tahun yang dengan sukarela akan dibunuh dan dimakan dagingnya oleh Meiwes. Seseorang yang ramping dan pirang merupakan tipe yang diinginkan Meiwes. Uniknya banyak yang merespon iklan tersebut, kabarnya bahkan sampai ratusan tapi kebanyakan tidak serius alias hanya iseng saja, lagi pula siapa yang mau di bunuh dan dagingnya di makan. Tapi, ada satu orang yang serius dengan iklan tersebut yakni Bernd Jürgen Armando Brandes, dia adalah seorang insinyur dari Berlin. Bernd merespon iklan tersebut pada Maret 2001.

Pada 9 Maret 2001, Bernd dan Meiwes bertemu di rumah Meiwes di sebuah desa kecil di Rotenburg untuk melakukan apa yang tertera pada iklan yang dipasang Meiwes. Pertunjukan pun di mulai dan direkam menggunakan sebuah kamera. Sekali lagi, semua yang dilakukan Meiwes sudah mendapat persetujuan dari Bernd dan Bernd juga kabarnya sudah diberikan alkohol serta obat pereda sakit. Pertama-tama Bernd meminta Meiwes untuk menggigit penisnya sampai putus namun karena kesulitan akhirnya Meiwes menggunakan pisau. Bernd juga sempat mencoba memakan penisnya sendiri secara mentah-mentah namun karena terlalu kenyal ia pun tak melakukannya. Menurut seorang jurnalis yang melihat video rekamannya, Bernd mungkin terlalu lemah karena kehabisan darah sehingga tidak dapat memakan penisnya sendiri. Kemudian Meiwes mencoba menggorengnya dengan ditambahkan garam, merica, anggur dan bawang namun karena terlalu gosong dia malah memberikannya ke anjingnya.

Bernd selanjutnya dibiarkan tergeletak di kamar mandi dengan keadaan kehilangan banyak darah sementara Meiwes malah membaca buku Star Trek selama 3 jam. Meiwes akhirnya membunuh Bernd dengan tikaman 4 kali di leher. Tubuh Bernd digantung di pengait daging dan di potong-potong menjadi beberapa bagian untuk selanjutnya di simpan di lemari pendingin. Meiwes bahkan berusaha untuk menggiling tulangnya untuk dijadikan tepung. Sementara tengkorak kepalanya dikubur di pekarangan. Meiwes memasak 20 kilogram daging dari tubuh Bernd sedikit demi sedikit dan menghabiskannya selama berbulan-bulan.

Kasus kanibalisme Armin Meiwes memang mengerikan dan bikin geleng-geleng kepala, bukan hanya karena kesadisannya tapi karena si korban juga secara sukarela dibunuh dan tubuhnya dimakan.

Baca juga: Kisah Armin Meiwes, Si Kanibal Dari Jerman

Kisah Kanibalisme Katherine Knight


Katherine Mary Knight membunuh suaminya sendiri John Charles Thomas Price di kediaman mereka di Hunter Valley, Sdyney, Australia. Yang lebih parah ia bahkan menyajikan daging suaminya untuk anak-anaknya sendiri.

Pernikahan Katherine dan John memang sudah tidak harmonis lagi. Katherine sempat menuntut perceraian dan meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan surat peringatan kepada John. Ia ingin agar John dijauhkan dari dirinya dan anak-anaknya. Tapi, hal itu tampaknya tidak dikabulkan.

Sehari sebelum kejadian mengenaskan itu, John memang sudah berprilaku aneh. Malam sebelumnya ia tidur di rumah tetangganya. Sehari sebelumnya ia juga mengatakan pada rekan kerjanya jika ia besok tidak datang maka ia sudah di bunuh.

Kejadian tersebut terjadi pada malam tanggal 29 Februari 2000. Malam itu sebenarnya Katherine tampil cantik dengan lingerie yang baru ia beli. Katherine kemungkinan sudah memberikan banyak obat tidur pada John hingga ia bisa dengan mudah membunuh suaminya tersebut dengan cara yang sadis. Katherine membunuh John dengan menusuk tubuh John dengan pisau daging sebanyak 37 kali.

Besoknya, para tetangga melihat mobil John masih berada di jalan. Teman kerja John juga penasaran karena John tidak masuk kerja. Mereka bersama-sama datang ke rumah John namun betapa terkejutnya mereka melihat banyak darah di pintu. Mereka segera menghubungi polisi dan polisi yang menggeledah kediaman John menemukan hal-hal mengerikan di dalamnya. Polisi menemukan kulit John digantung di ruang tamu, Ketika masuk ke bagian dapur dan membuka panci yang digunakan untuk memasak, polisi melihat bagian kepala John yang sedang dimasak dengan sayuran bahkan sudah ada seiris daging bagian belakang John telah dimasak dan disajikan. Katherine mengaku ingin memberikan daging John yang sudah dimasak pada anak-anaknya.

Baca juga: Kisah Katherine Knight, Membunuh dan Menyajikan Daging Suaminya untuk Anak-Anaknya

Kisah Kanibalisme Rudy Eugene


Rudy Eugene lahir pada tanggal 4 Februari 1981 di Miami, Florida, Amerika Serikat. Ia memiliki darah Haiti dari orang tuanya yang bercerai beberapa bulan setelah kelahirannya. Rudy tidak pernah berkomunikasi dengan ayahnya sampai ayahnya meninggal saat Rudy berusia 6 tahun. Saat masih kecil, hampir setiap hari Minggu ia dan keluarganya mengunjungi Gereja Baptis Bethel Evangelical. Pernikahan Rudy juga tidak berjalan baik, ia hanya mampu mempertahankan rumah tangganya dari tahun 2005 sampai 2008 setelah istrinya melaporkan adanya kekerasan dalam rumah tangganya. Rudy juga telah ditangkap oleh pihak berwenang sebanyak 8 kali, yang pertama adalah tahun 1997 karena penyerangan sementara penangkapan terakhirnya pada September 2009. Ia juga diketahui memiliki kecanduan terhadap ganja meskipun ia pernah mengatakan ingin berhenti memakainya.

Pada 26 Mei 2012, Rudy menyerang seorang gelandangan bernama Ronald Poppo di bagian barat MacArthur Causeway, perlintasan yang menghubungkan pusat kota dan kawasan pantai Miami. Tak hanya menyerang tapi Rudy juga memakan wajah Ronald, terdengar tidak mungkin tapi kenyataannya memang begitu. Sebelum menyerang Ronald, Rudy dalam keadaan telanjang. Larry Vega, seorang pengendara sepeda yang melihat kejadian itu langsung menghubungi 911. Beberapa menit kemudian Jose Ramirez petugas kepolisian Miami datang ke lokasi kejadian. Ia sempat menyuruh Rudy untuk berhenti namun Rudy mengabaikannya dan malah mengeram. Jose memutuskan untuk menembak Rudy, tembakan pertama tak membuat Rudy berhenti hingga akhirnya beberapa tembakan susulan berhasil membuat Rudy berhenti sekaligus membunuhnya di tempat. Kejadian yang terekam sebuah kamera CCTV ini Membuat Rudy mendapat julukan "Zombie Miami". Tragis, padahal dua hari sebelumnya lewat akun Facebook Rudy mengatakan kalau ia sedang mencari bimbingan spiritual karena ingin terlepas dari kecanduan ganja.

Baca juga: Tragedi Rudy Eugene Memakan Wajah Gelandangan di Miami

Kisah Kanibalisme Mahasiswa Jepang, Issei Sagawa


Pada tahun 1977 di usia 28 tahun, dia pindah ke Paris untuk mengejar gelar Ph.D. dibidang bahasa dan literatur di Universitas Sorbonne. Disana ia bertemu dengan seorang wanita cantik kelahiran Belanda bernama Renee Hartevelt. Renee sendiri adalah teman sekelasnya di Universitas Sorbonne dan ia sering berkunjung ke apartemen Sagawa untuk belajar bersama.

Tanggal 11 Juni 1981 adalah tanggal dimana Sagawa merasakan daging manusia untuk pertama kalinya. Hari itu Sagawa mengajak Renee ke apartemennya seperti biasanya namun kali ini ia punya sebuah rencana terhadap Renee. Sagawa yang otaknya sudah harus di setel ulang itu menembak Renee, ini menembak dalam artian sebenarnya, menggunakan pistol, bukan menembak menyatakan cinta. Setelah menembak Renee, Sagawa sempat pingsan karena terkejut. Namun, ia segera kembali terbangun karena ia sadar harus melanjutkan rencananya. Sebelum memakan daging dari mayat Renee, Sagawa terlebih dahulu memperkosa mayatnya. Kurang gila apa lagi si Sagawa ini.

Sagawa mencoba memakan daging Renee secara langsung namun ia kesulitan menggigit kulitnya hingga ia membeli pisau terlebih dahulu. Selama dua hari, Sagawa memakan bagian-bagian tubuh milik Renee seperti betis, bibir, paha, dan payudaranya. Sebagian dimakan secara mentah, sebagian dimakan setelah dimasak terlebih dulu, dan sebagian lagi dia simpan di dalam kulkas. Sagawa mengaku mendapatkan kenikmatan seksual setelah melakukan kanibalisme terhadap korbannya. Setelah merasa kenyang, kemudian Sagawa berniat untuk membuang sisa-sisa tubuh Renee dengan memasukkannya kedalam dua buah koper yang sengaja dia beli, dan membuangnya di danau Bois de Boulogne. Namun usahanya tersebut diketahui polisi Prancis dan kemudian Sagawa ditangkap. Ketika melakukan penggeledahan di apartemen milik Sagawa, pihak kepolisian Prancis menemukan sisa makanan yang merupakan daging manusia yang sudah dimasak. Selain itu juga ditemukan sebuah identitas milik Renee Hartevelt. Saat di interogasi, Ia mengaku terkejut dengan rasa daging manusia yang lunak dan tidak berbau, seperti ikan tuna.

Baca juga: Issei Sagawa, Kanibal Terkenal dari Jepang

Kisah Kanibalisme Jeffrey Dahmer


Dari tahun 1978 sampai 1991, Jeffrey Dahmer diketahui sudah membunuh 17 pria dan remaja. Jeffrey adalah seorang gay dan kebanyakan korban Jeffrey adalah pasangan gay nya sendiri yang ia temui di bar khusus gay dan hampir semuanya adalah orang kulit hitam. Ia biasanya memberikan obat bius terlebih dahulu hingga si korban pingsan lalu mulai melakukan aksi biadabnya tersebut. Ia membunuh korbannya, menyetubuhi jasadnya, memutilasinya kemudian memakannya.

Jeffrey juga kabarnya membuat obat biusnya sendiri dan mencoba pada orang-orang yang ia temui di bar khusus gay. Di percobaan kelima ia baru berhasil membuat obat bius yang ia inginkan.

James Doxtator, remaja 14 tahun. Anak tanggung ini ditawari menjadi model foto telanjang dengan iming-iming uang oleh Jeffrey, James mengiyakan. Ia pun dibawa ke apartemen Jeffrey. Yang terjadi, remaja itu diperkosa. Sesudahnya, James dipaksa menenggak minuman yang telah dicampur obat bius. Ia pingsan. Jeffrey lalu memerkosa korbannya yang sudah menjadi mayat secara berulang-ulang di tempat yang tidak biasa, ia memerkosa korban nya di mulutnya, lubang matanya, dan luka di kerongkongan korban yang ia buat dengan menyayatkan pisau terlebih dulu. Setelah itu semuanya dilenyapkan dengan rapi.

Jeffrey punya cara pelenyapan mayat yang sistematis. Dimulai dengan memperkecil ukuran (mutilasi), lalu merendamnya dalam larutan asam untuk melunakkan tulang-tulangnya. Setelah itu, ia tinggal memasukkannya ke dalam toilet. Namun, Jeffrey punya gagasan yang lebih gila dengan memakan daging korbannya. Salah satu korbannya yang ia makan adalah Oliver Lacy. Jeffrey membunuh Oliver yang berusia 23 tahun itu pada 12 Juli 1991.

Baca juga: Jeffrey Dahmer, Pembunuh Berantai dan Kanibal dari Milwaukee

Kisah Kanibalisme Albert Fish


Albert Fish adalah seorang pembunuh berantai, pelaku pelecehan seksual terhadap anak, dan seorang kanibal. Ia lahir dengan nama Hamilton Howard Fish pada 19 Mei 1870 di Washington, D.C., Amerika Serikat. Karena aksi-aksi sadisnya, ia mendapat berbagai julukan mengerikan seperti "Gray Man", "The Werewolf of Wysteria", "The Brooklyn Vampire", "The Moon Maniac", dan "The Boogey Man".

Albert dikonfirmasi telah membunuh 3 orang yaitu Francis X. McDonnell, Billy Gaffney, dan Grace Budd. Meskipun hanya 3 pembunuhan itu yang bisa ditelusuri asal usulnya, namun korban dari tindakan bengis Albert diperkirakan mencapai puluhan hingga seratus orang lebih.

Salah satu aksi pembunuhan paling terkenalnya adalah terhadap Grace Budd. Pada 25 Mei 1928, Albert melihat sebuah iklan di koran New York World bertuliskan "Young man, 18, wishes position in country. Edward Budd, 406 West 15th Street.", sebuah iklan yang dipasang oleh Edward Budd yang sedang mencari pekerjaan. Albert yang kala itu sudah berusia 58 tahun kemudian datang ke alamat rumah Edward dan mengaku sebagai Frank Howard, seorang petani dari Farmingdale, New York. Albert kemudian menjanjikan sebuah pekerjaan untuk Edward dan temannya, Willie. Mereka berdua akan dipekerjakan dalam beberapa hari ke depan dengan bayaran $15 perminggu, namun Albert tak kunjung datang lagi. Albert kemudian mengirim telegraf yang berisikan permintaan maaf kepada Edward.

Albert kembali datang ke rumah Edward dan kali ini ia bertemu dengan Grace Budd, saudara perempuan Edward. Albert kemudian mengalihkan targetnya dari Edward ke Grace. Ia kemudian mengarang cerita tentang ulang tahun keponakannya yang harus ia hadiri di 137th Street and Columbus Avenue. Ia meyakinkan Delia Flanagan dan Albert Budd I yang merupakan orang tua Edward dan Grace untuk mengizinkan Grace menemaninya ke ulang tahun tersebut. Betapa bodohnya orang tua Grace yang malah mengizinkan Albert membawa Grace, kelanjutannya sudah bisa ditebak, Grace yang pergi bersama Albert hari itu tidak pernah kembali ke rumah.

Karena Grace tak kunjung kembali, ayahnya mencoba mencari ke alamat tempat ulang tahun tersebut. Namun dia menemukan bahwa alamat tersebut tidak pernah ada, Colombus hanya ada sampai 109th. Ayahnya pun melapor pada polisi dan Grace dinyatakan hilang.

Dalam kasus ini sempat terjadi salah tangkap dimana polisi malah menangkap seorang pria berusia 66 tahun, Charles Edward Pope pada 5 September 1930. Charles harus mendekam di penjara selama 108 hari antara hari penangkapannya dan persidangannya pada 22 Desember 1930. Ia kemudian dinyatakan tidak bersalah. Pada waktu itu teknologi memang tidak secanggih sekarang, Albert yang memalsukan identitasnya sebagai Frank Howard benar-benar sangat sulit dicari.

Pada November 1934, sebuah surat tak dikenal diterima Keluarga Budd. Surat tersebut ternyata dari si pembunuh Grace yang tidak lain adalah Albert. Dalam surat itu dijelaskan bagaimana proses Albert bertemu Grace sampai membunuhnya.

Inilah salah satu bagian paling mengerikan dalam surat tersebut yang menjelaskan bagaimana Albert membunuh serta memakan tubuh Grace dengan cara yang sadis:

"First I stripped her naked. How she did kick – bite and scratch. I choked her to death then cut her in small pieces so I could take my meat to my rooms, cook and eat it. How sweet and tender her little ass was roasted in the oven. It took me 9 days to eat her entire body. I did not fuck her, though, I could of [sic] had I wished. She died a virgin."

Terjemahannya:

" Pertama saya melucuti pakaiannya. Dia menendang, mengigit, dan mencakar. Saya mencekiknya sampai mati, kemudian memotongnya menjadi bagian-bagian kecil sehingga saya dapat membawa dagingnya keruangan saya. Memasaknya dan memakannya. Betapa enak dan lembut dagingnya ketika dipanggang di dalam oven. Saya membutuhkan waktu 9 hari untuk menghabiskan seluruh tubuhnya. Saya tidak berhubungan dengannya meskipun saya berharap dapat. Dia mati sebagai perawan"

Baca juga: Kisah Kanibalisme dan Pembunuhan Berantai Albert Fish

Kisah Kanibalisme Matthew Williams


Matthew Williams, seorang pria asal Inggris kepergok sedang memakan bola mata kekasihnya di sebuah kamar di hotel The Sirhowy Arms Hotel di Argoed, Wales Selatan.

Gerak-gerik Matthew membuat pihak hotel curiga, akhirnya bersama polisi mereka mendobrak kamar Matthew dan melihat pemandangan mengerikan dimana Matthew sedang memakan wajah pacarnya yang sudah bersimbah darah tergeletak di lantai. Polisi pun langsung menyerang Matthew dengan menembakkan senjata kejut berkapasitas 50.000 volt ke arahnya. pria berusia 34 tahun yang baru saja keluar dari penjara dua minggu itu pun akhirnya tersungkur dan tak sadarkan diri. Saat mencoba dibangunkan, Matthew tidak merespons dan akhirnya dinyatakan mati. Sementara pacar Matthew yang diketahui berusia 22 tahun juga tewas dengan kondisi mengenaskan.

Identitas korban kanibalisme Matthew diketahui bernama Cerys Yemm, pekerja di toko bernama Next di Blackwood, Wales. Perempuan berambut pirang itu mengenal Matthew dari teman-temannya. Cerys pun jatuh hati kepadanya dan memenuhi undangan Matthew ke The Sirhowy Arms Hotel. Tapi naas, di kamar hotel Cerys malah dibantai dan dimutilasi. Wajah dan matanya dipotong, lalu dimakan masih dalam keadaan sekarat.

Kisah Kanibalisme Gregory Hale Si Pemuja Setan


"Saya memeluk orang yang saya benci, jadi saya tahu seberapa besar menggali lubang di halaman belakang saya" - Gregory Hale

Gregory Hale diketahui adalah seorang pemuja setan, ia bahkan kerap mengunggah penampilan-penampilan menyeramkannya ke akun Facebook-nya. Gregory pernah bekerja di rumah jagal hewan. Menurut temannya, ia pernah mendengar Gregory memproklamirkan diri sebagai pemuja setan setelah dipecat bosnya karena melakukan ritual aneh dengan potongan-potongan tubuh hewan.

Dengan latar belakang seorang pemuja setan tak heran ia bisa nekat melakukan hal-hal gila seperti kanibalisme. Gregory pernah melakukan tindakan kanibalisme terhadap seorang wanita berusia 36 tahun bernama Lisa Hyder. Petugas kepolisian mengatakan, Gregory yang baru bertemu Lisa untuk pertama kalinya, telah melakukan tindakan sadistis. Gregory memutilasi tubuh korban dan dimasukkan ke beberapa ember. Kepada polisi, dia mengaku telah memakan potongan tubuh korban di rumahnya. Gregory memakan daging manusia sebagai ritual pemujaan setan yang ia lakukan.

Kisah Kanibalisme Timur dan Marat dari Rusia yang Memakan Kakaknya Sendiri


Pada tahun 2009, 2 orang warga Rusia memakan kakak mereka sendiri setelah membunuhnya. Tindakan bengis itu berhasil mereka sembunyikan selama enam bulan. Kedua pelaku adalah Timur yang berusia 28 tahun dan Marat yang berusia 23 tahun. Mereka membunuh dan memakan kakak mereka bernama Rafis di Kota Perm, Rusia. Polisi mencurigai kedua kakak-adik itu lantaran mereka melaporkan kakak mereka hilang tapi tidak bisa menjelaskan secara rinci keberadaan kakak mereka sebelum hilang.

Setelah menggerebek rumah mereka, polisi menemukan tulang kerangka Rafis. Rupanya mayat Rafis dikubur di halaman belakang rumah. Timur mengatakan dia memakan kakaknya lantaran tidak ingin kembali ke penjara jika ketahuan polisi. Timur sebelumnya pernah dipenjara sepuluh tahun lantaran membunuh tetangganya.

"Ya kami memutuskan memakannya. Saya tidak mau kembali masuk penjara. Jadi kami harus memotong kepala dan menguburkannya. Kami memotong-motong badannya dan menyimpannya di kulkas. Kami memasaknya dan memakan dagingnya selama enam bulan," kata Timur.

Kisah Kanibalisme David Playpenz Yang Memakan Jarinya Sendiri


Suatu hari David Playpenz asal Colchester, Essex mengalami kecelakaan sepeda motor. Dalam kecelakaan tersebut tangannya terluka. Ketika dia menemui dokter beberapa hari kemudian terlihat salah satu jarinya menghitam dan kata dokter harus diamputasi. David kemudian setuju dan meminta jarinya itu bisa dibawa pulang. Dokter pun membolehkannya. David yang berusia 30 tahun itu selama ini memang tertarik dengan kanibalisme.

“Saya selalu penasaran apa rasanya daging manusia. Tapi hal itu pasti melanggar hukum. Lalu saya terpikir, saya tidak akan dihukum jika memakan daging saya sendiri. Jadi saya putuskan memasak jari saya dan memakannya," kata David. Dia kemudian memotret tulang jarinya dan mengunggahnya ke laman akun media sosial Facebook-nya.

Kisah Kanibalisme Mao Sugiyama, Memasak Penis dan Buah Zakarnya Sendiri Kemudian Dihidangkan Kepada Orang Lain


Seorang lelaki asal Jepang di Ibu Kota Tokyo bernama Mao Sugiyama dengan sukarela menjalani operasi bedah pemotongan alat kelamin. Pria yang bekerja sebagai ilustrator itu kemudian membawa penis dan buah zakarnya ke rumah untuk dimasak selanjutnya dibumbui dan dihidangkan kepada 5 orang.

Mao memasak sendiri hidangan itu dan memasang harga Rp 2,4 juta bagi setiap orang yang menikmati hidangannya. Sebelum menyantap hidangan itu tamu undangannya mendengarkan alunan musik piano dan mengikuti diskusi panel. Orang yang menyantap hidangan Sugiyama itu adalah pasangan berusia 30 tahun, perempuan 22 tahun, lelaki 32 tahun, dan pria 29 tahun.

Kisah Kanibalisme Li Zheng Hua Yang Menggigit Tangan Anaknya Sendiri


Rumah bersalin di Tiongkok dikejutkan dengan seorang ibu yang "lapar akan tangan anaknya sendiri". Saat itu seorang perempuan berusia 24 tahun bernama Li Zheng Hua melahirkan seorang bayi laki-laki dengan sehat. Setelah Li sadarkan diri, bayi tersebut pun diperkenalkan padanya. Namun, tak lama setelah ditinggalkan, perawat yang kembali ke kamarnya melihat Li sedang menggigit salah satu pergelangan tangan anaknya sendiri. Staf rumah sakit pun langsung memisahkan Li dari bayinya yang sudah menangis karena kesakitan. Bayi laki-laki itu mengalami luka dan lebam pada pergelangan tangan. Setelah dipisahkan baru diketahui bahwa Li mengalami gangguan jiwa sejak diusir ibunya dari rumah karena hamil di luar nikah. Li selama mengandung hidup sebagai gelandangan.

Kisah Kanibalisme Alexander Spesivtsev


Alexander Spesivtsev membunuh 80 orang dan sebagian besar di antaranya dimakan. Kepolisian Rusia mengetahui pembunuhan itu setelah saluran pipa rumahnya tersendat. Ternyata pipa tersebut tersendat gara-gara badan sisa mutilasi sebelumnya. Alexander pun ditangkap dan kejahatannya terungkap.

Yang mengerikannya, salah satu korban ada yang masih hidup dan sudah beberapa bagian tubuhnya yang lepas saat ditemukan oleh polisi. Kemudian, yang mencengangkan adalah, ibunya juga terlibat dalam pembunuhan itu. Sang ibulah yang mengundang wanita-wanita ke dalam rumah mereka. Selanjutnya, Alexander akan memerkosa dan membunuh wanita itu untuk dimakan. Ibunyalah yang memasak daging para korban.

Kisah Kanibalisme Matej Curko


Matej Curko adalah seorang pria asal Slovakia yang melakukan pembunuhan terhadap 30 wanita dan semuanya dimakan. Cara Matej tidak tradisional, karena menggunakan sosial media. Hebatnya, dirinya berhasil "menggoda" 30 korban untuk bertemu dengannya. Saat bertemu Matej juga mampu memberi pemikiran-pemikiran tentang hidup kepada korban yang membuat mereka memutuskan bunuh diri. Namun, jika korbannya tidak terpengaruh, dia akan membunuh korban dengan menembak kepalanya. Bahkan ada satu korban yang sempat menjadi pengikutnya dan juga memakan 29 korban lain, sebelum akhirnya ia juga dimakan Matej. Kepolisian berhasil menangkap Matej setelah menerima laporan kehilangan serupa dari keluarga para korban. Namun, dalam pengadilan, sang istri sempat memberikan pembelaan dan bantahan atas bukti pembunuhan yang telah ada.

Kisah Kanibalisme Nikolai Dzhumagaliev


Nikolai Dzhumagaliev asal Kazakhstan ingin menghilangkan wanita tuna wisma dari dunia. Misinya itu dilakukan dengan cara membunuh 7 wanita selama satu tahun. Setelah dibunuh, Nikolai akan menyimpan daging-daging korbannya. Bahkan, Nikolai punya lemari es khusus agar daging tak membusuk. Kemudian, bukan hanya memakan korban sendiri, Nikolai juga memasak korbannya dan menyajikan kepada teman-teman yang diundang ke rumahnya. Dengan bangga Nikolai mengatakan bahwa dirinya berburu dan ingin membagikan kebahagiaan kepada temannya. Teman-temannya pun makan dengan lahap daging yang dimasak Nikolai tanpa tahu kalau sebenarnya yang mereka makan adalah daging manusia.

Nikolai ketahuan setelah salah satu temannya yang mabuk membuka lemari es tempat penyimpanan para mayat dan melihat kepala wanita dan beberapa lengan manusia. Teman-temannya pun muntah dan salah satu di antaranya lari untuk melaporkan kejadian itu pada polisi.

Kisah Kanibalisme Bernard Oehme


Di bulan Februari 1948, sebuah insiden yang mengerikan terjadi di wilayah Chemnitz. Maria Oehme dilaporkan hilang oleh keluarganya selama sebulan, ketika dilaporkan ke polisi. Penyelidikan mengarah kepada Bernard Oehme, saudara Maria yang kemudian menjadi tersangka. Polisi menemukan sisa-sisa bagian tubuh wanita yang berusia 26 tahun tersebut di sekitar rumah Bernard. Banyak daging manusia ditemukan dalam pot, piring dan ember dengan kepala, tangan dan kaki ditemukan di ruang bawah tanah. Setelah diinterogasi, Bernard mengaku membunuh, memasak dan makan bagian tubuh Maria dengan tanpa alasan apapun.

Kisah Kanibalisme William Seabrook


William Seabrook bekerja sebagai reporter di New York Times, pria ini lebih dikenal sebagai penulis buku travel yang agak aneh. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Jungle Ways. Dalam buku ini William mengisahkan secara detail perjalanannya ke Afrika Barat dimana dia bertemu sebuah suku terasing yang disebut sebagai Guere. Suku ini juga dikenal sebagai salah satu praktisi
kanibalisme, dimana mereka terbiasa mengkonsumsi mayat anggota suku lain yang mati.

Setelah menyelesaikan tugasnya meliput keanehan suku Guere, William menjadi bertanya-tanya bagaimana sebenarnya rasa daging manusia hingga akhirnya ingin mencobanya sendiri. Karena itulah William kemudian kembali kepada suku Guere dan ikut dalam salah satu ritual kanibalisme mereka. William mengatakan kalau daging manusia rasanya mirip daging sapi.

Kisah Kanibalisme Peter Bryan


Peter Bryan dinyatakan sakit jiwa oleh dokter yang memeriksanya yang kemudian ditempatkan di dalam rumah sakit jiwa setelah membunuh anak majikannya pada tahun 1993. 9 tahun kemudian, Peter berhasil kabur ketika dipindahkan ke rumah sakit lain dan sekali lagi membunuh seorang korban berusia 43 tahun. Kali ini, Peter memutilasi korbannya menggunakan gergaji dan pisau. Ketika polisi datang, mereka menemukan sisa-sisa otak korban dipanggang di dalam wajan.
Peter menyatakan telah memanggang otak korban menggunakan margarin dan rasanya sangat enak, seperti daging ayam.

Pada tahun 2004, Peter kembali lagi membunuh seorang pasien lain dan hendak memasaknya.
Namun sebelum niatnya kesampaian, dia lebih dulu tertangkap dan dimasukkan ke sel terisolir hingga sekarang.

Kisah Kanibalisme Jorge Negromonte Da Silveira


Jorge Negromonte Da Silveira yang merupakan seorang warga Brazil bersama dua orang isterinya ditangkap karena diduga membunuh seorang wanita tuna wisma bulan april 2012. Ketika diinterogasi ketiganya mengaku sebelumnya telah membunuh dua orang lainnya dimana sebagian jasad para korban mereka masak sementara sebagian lain dijual.

Jorge menyatakan bahwa setelah memakan jasad korban pertama dan merasakan bahwa rasanya tidak jauh beda dengan daging sapi, ketiganya memutuskan untuk membunuh lagi dan menjual daging korban kedua setelah dicampur dengan daging sapi. Di dalam pengadilan Jorge dijatuhi hukuman penjara 23 tahun sementara untuk kedua isterinya masing-masing mendapat hukuman 20 tahun.

Kisah Kanibalisme Tobias Schneebaum


Tobias Schneebaum sangat gembira ketika mendapat beasiswa untuk belajar di Peru. Ketika di sana, Tobias mendengar cerita tentang Arakmbut, sebuah suku terasing yang tinggal di hutan. Kekejaman suku ini tidak membuat Tobias takut tetapi malah membuatnya tertarik untuk mengenal lebih dekat. Ketika akhirnya berhasil menemukan suku ini, Tobias disambut dengan tangan terbuka. Setelah beberapa saat berada di sana Tobias diajak untuk pergi berburu. Namun begitu sampai di tempat tujuan barulah Tobias menyadari bahwa yang mereka maksud "berburu" adalah berperang melawan suku lain dan membawa pulang korban yang berhasil mereka bunuh untuk kemudian dijadikan hidangan pesta.

Pada memoir dokumenter Keep The River On Your Right yang dibuatnya, Tobias menyatakan bahwa daging panggang manusia terasa seperti daging babi.

Kisah Kanibalisme Omaima Nelson


Omaima adalah seorang wanita asli Mesir namun pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1991. Dia bertemu dengan William Nelson hingga akhirnya menikah dua bulan kemudian. Pernikahan yang harusnya indah, ternyata tidak dirasakan olehnya. Omaima menuduh suaminya telah berlaku jahat padanya, bahkan memaksanya dalam berhubungan badan.

Tiga minggu setelah pernikahan, Omaima membunuh suaminya. Untuk menghilangkan barang bukti, Omaima menggoreng jari-jari suaminya, merebus kepalanya hingga membuat iga bakar barbeku dari tulang di dada. Omaima mengatakan jika daging manusia sangat manis dan enak setelah dia mencoba daging iga dari suaminya yang dibuat barbeku. Kejadian ini membuat Omaima mendekam di penjara seumur hidup.

Kisah Kanibalisme Surinder Koli


Nama Surinder Koli mencuat dalam kasus pembunuhan berantai di Noida, India, pada 2005 yang dikenal dengan "House of Horror". Surinder dihukum mati karena melakukan lima pembunuhan. Pada 2014, Mahkamah Agung India mengubah hukumannya menjadi penjara seumur hidup. Surinder bukan hanya seorang pembunuh, tetapi juga penderita pedofilia dan kanibal. Korbannya merupakan perempuan dan anak-anak. Ia juga mengakui dirinya sebagai seorang kanibal bahkan memiliki kecenderungan nekrofilia atau pemerkosaan pada mayat.

Kisah Kanibalisme Karl Denke


Karl Denke lahir di Munsterberg, Silesia, Kerajaan Prusia (saat ini menjadi Polandia dan sebagian Jerman), 12 Februari 1860. Pada 20 Desember 1924, Karl ditangkap dengan tuduhan menyerang seorang pria dengan kapak. Polisi lalu menggeledah rumahnya dan menemukan daging manusia tersimpan di dalam toples. Ditemukan juga sebuah buku berisi daftar korban Karl sebanyak 42 orang. Tidak hanya menjadi kanibal, Karl bahkan menjual daging korbannya dengan cara menjadi penjual daging babi di pasar. Dua hari setelah penangkapannya, Denke ditemukan gantung diri di selnya.

Kisah Kanibalisme di Korea Utara


Sebuah bencana kelaparan yang terkesan disembunyikan pemerintah Korea Utara ternyata terjadi disana. Provinsi Hwanghae Selatan dan Utara adalah daerah yang terkena dampak kelaparan tersebut. Sekitar 10 ribu orang tewas karena kelaparan yang disebabkan masa peceklik hingga petani di negara tersebut gagal panen. Hal itu diperparah dengan adanya penyitaan persediaan bahan makanan dari beberapa provinsi oleh pemerintah yang kemudian dibawa untuk diberikan pada warga di daerah ibu kota Pyongyang. Korea Utara sendiri pernah dilanda kelaparan yang parah pada tahun 1990-an – yang dikenal sebagai "Maret Kelabu" – yang menewaskan sekitar 240 ribu orang.

Akibat bencana kelaparan tersebut beredar kabar kalau sebagian warga Korea Utara melakukan tindakan kanibalisme. Seorang pria tega membunuh putri tertuanya saat istrinya tidak ada di rumah karena kelaparan. Ia kemudian juga membunuh anaknya yang lain karena sang anak memergoki apa yang dilakukan ayahnya itu. Saat sang istri pulang, si pria mengatakan bahwa mereka mempunyai stok daging. Namun, si istri curiga karena dimasa sulit seperti ini dari mana si pria mendapatkan daging yang cukup banyak. Akhirnya, si istri melapor kepada pihak berwenang. Daging-daging dari kedua anaknya kemudian ditemukan lalu si pria dieksekusi karena tindakan mengerikannya.

Jiro Ishimaru dari Asia Press yang menyusun 12 laporan terkait masalah ini, mengatakan ia terkejut atas banyaknya kejadian kanibalisme di Korea Utara akibat kelaparan. Dalam kejadian berbeda, ia menulis seorang pria menggali kuburan cucunya dan memasak dagingnya untuk dimakan. Dalam kejadian lain, sebuah keluarga merebus anaknya sendiri untuk disantap. Seorang lelaki juga dihukum mati setelah membunuh dan memakan seorang gadis. Sementara seorang pria lainnya dijatuhi hukuman mati setelah membunuh sebelas orang dan menjual tubuh mereka sebagai daging babi. Kanibalisme juga dilaporkan meluas di penjara-penjara Korea Utara.

Di sebuah pasar di Chongjin, sebuah kota di ujung pantai Korea Utara, Seorang pramusaji bernama Sung Min Jeong mengaku dipaksa untuk menyajikan hidangan khusus bagi para pekerja, untuk dimakan sambil menenggak alkohol yakni masakan daging manusia. Pikiran bahwa suatu saat nanti ia akan terpaksa memakan daging manusia menghantui benak pria itu. Ia kemudian nekat melarikan diri dari Korea Utara, susah payah, hingga kemudian berhasil menetap di Australia.

Baca juga: Kisah Kanibalisme di Korea Utara

Kisah Kanibalisme Suku Korowai


Kanibalisme yang dilakukan oleh Suku Korowai tidak seperti yang ada di cerita horor atau film. Mereka tidak memakan manusia begitu saja.

Suku Korowai tidak tahu apa-apa soal kuman atau penyakit, meskipun khusus untuk batuk mereka menjadikan larva semut sebagai obat, namun mereka tidak tahu akan penyakit lainnya seperti malaria yang paling berpotensi menyerang mereka. Jika ada yang meninggal karena penyakit yang mereka tidak tahu, mereka percaya kalau itu ulah Khakua (penyihir) dan si Khakua sedang menyamar menjadi salah satu dari mereka. Karena itulah akan ditentukan siapa terduga atas kematian tersebut di antara mereka, kemudian dengan pengadilan yang mereka adakan, Jika terbukti bersalah mereka akan membunuh orang tersebut karena dianggap sebagai penyihir. Kemudian menyantap dagingnya untuk benar-benar memusnahkan si Khakua, ibu hamil dan anak-anak tidak ikut serta dalam hal ini. Setelah memakan habis tubuh Khakua, mereka akan memukul-mukul dinding rumah tinggi mereka dengan kayu sambil bernyanyi semalaman.

Orang Suku Korowai yang melanggar peraturan mereka juga akan diberikan hukuman yang sama, menjadi santapan Suku Korowai. Jadi, kanibalisme bagi mereka adalah sebuah sistem peradilan layaknya penjara di kehidupan kita.

Selain orang yang diduga sebagai Khakua dan yang melanggar peraturan, orang yang sakit keras dan tak kunjung sembuh juga jadi korban kanibalisme suku ini. Tujuannya mungkin agar si penderita penyakit tidak menderita lebih lama lagi di dunia, maka orang yang sakit dalam waktu lama lebih baik mati.

Bacja juga: Suku Korowai, dari Tinggal di Rumah Pohon Sampai Melakukan Kanibalisme

Kisah Kanibalisme Suku Aghori di India


Salah satu kebiasaan mengerikan Suku Aghori adalah kanibalisme. Prilaku memakan daging manusia ini masih mereka lakukan sampai saat ini, namun Suku Aghori tidak membunuh untuk bisa memakan daging manusia, mereka memilih untuk mencuri mayat dari pemakaman dan memakannya secara langsung tanpa dimasak terlebih dahulu. Hal ini diyakini karena memakan mayat manusia bisa memberikan mereka kekuatan dan membawanya lebih dekat dengan Dewa Siwa. Selain itu mereka juga suka bermeditasi di atas bangkai mayat yang sudah setengah dimakan. Mereka memercayai bahwa tubuh orang mati tersebut bisa mendekatkan mereka pada yang kuasa.

Kisah Kanibalisme Suku Aztec


Suku Aztec adalah suku kuno penghuni wilayah Meksiko pada zaman dulu. Suku Aztec terkenal dengan kehebatan dalam berperang dan jaya pada masa kepemimpinan Raja Tlacaelel. Suku ini mengorbankan nyawa manusia bukan tanpa sebab. Raja Aztec mempersembahkan tumbal sebagai ritual pemujaan untuk dewa mereka, Huitzilopochtli. Para tumbal akan dikorbankan dengan mencabut jantungnya saat masih berdetak, kemudian tumbal ini akan dimasak untuk dijadikan santapan bersama. Selama satu tahun, suku Aztec mengorbankan lebih dari seribu jiwa sebagai tumbal.

Kisah Kanibalisme Suku Indian di Karibia


Suku kanibal selanjutnya adalah kelompok Indian Karibia. Nama kanibal sendiri diambil dari nama daerah ini, "Cariba" yang awalnya dicetuskan oleh Christopher Columbus saat menemukan pulau Karibia.

Suku kanibal Karibia adalah suku pertama yang mengenalkan praktik kanibalisme di dunia, yang nantinya berdampak pada eksploitasi dan pembantaian. Hal ini awalnya dilakukan sebagai balas dendam kepada musuh perang yang telah membunuh anggota keluarga mereka.

Budaya yang berlangsung hingga abad 17 ini perlahan hilang seiring dengan agama Kristen yang masuk ke Karibia. Penduduk kanibal juga perlahan membaur dan berasimilasi dengan masyarakat biasa.

Kisah Kanibalisme Suku Maori di Selandia Baru


Maori adalah suku pertama yang mendiami sebuah daratan Aetearoa, wilayah di Selandia Baru yang berarti 'Tanah Awan Putih Berarak'. Praktik kanibal dalam kehidupan suku ini sudah mendarah daging dan menjadi budaya tersendiri. Buktinya, ketika salah satu kapal Inggris, The Boyd berlabuh dan membunuh anak sang kepala suku. Sebagai gantinya mereka membalas dengan membasmi habis semua awak kapal dan menjadikan tubuh mereka sebagai santapan.

Kita semua setuju kanibalisme adalah hal yang mengerikan, tidak wajar, dan melanggar aturan. Namun, bagaimana jika keadaan memaksa kita untuk melakukannya, misalnya untuk bertahan hidup seperti kisah-kisah kanibalisme di bawah ini.

Kisah Kanibalisme Pengepungan Leningrad/Blokade Leningrad


Inilah kisah pengepungan paling lama dan paling banyak korban sepanjang sejarah. Pengepungan Leningrad atau popular juga dengan sebutan Blokade Leningrad, adalah operasi militer berkepanjangan yang dilakukan oleh Jerman dan pasukan pertahan Finlandia untuk memblokade Leningrad pada 8 September 1941. Pengepungan ini berlangsung selama dua tahun. Kota ini benar-benar terisolasi, baik di darat maupun laut. Selama berbulan-bulan, para penduduk hanya makan dari danau yang ada di sana, tapi ketika musim dingin tiba, danau beku.

Tentara Soviet mengalami kesulitan untuk memasok makanan. Masyarakat mulai kelaparan. Untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, para tukang roti di kota itu diperintahkan untuk membuat roti yang dicampur dengan serbuk gergaji. Ini semata-mata untuk perjuangan hidup. Selebihnya, burung, tikus, dan makan-makanan lain yang dalam kondisi normal jijik untuk dimakan, terpaksa menjadi santapan. Ini semua demi perut, dan demi kehidupan. Ketika tidak ada lagi yang bisa dimakan, maka mulailah terjadi kanibalisme.

Praktek ini terjadi semakin meluas di seluruh kota, sampai-sampai Polisi Leningrad merasa perlu melakukan patrol anti-kanibalisme, untuk mencegah kondisi makin buas dan tak terkendali. Dan memang itulah tujuan Jerman dan Finlandia untuk menjatuhkan Soviet. Sekalipun belakangan diakui bahwa kanibalisme ini kenyataannya menyelamatkan kehidupan banyak orang, tapi pada saat itu polisi tetap melarang perbuatan itu.

Meski begitu kanibalisme tetap terjadi meski sembunyi-sembunyi. Diperkirakan, tragedi itu menyebabkan tewasnya 1,5 juta orang. Berdasarkan catatan, ini bukan pertama kalinya rakyat Soviet melakukan kanibalisme. Sebelumnya, tahun 1932-1933 terjadi bencana kelaparan yang luas di Ukraina yang menyebabkan praktek kanibalisme terjadi di kawasan itu.

Kasus Kanibalisme Paling Terkenal, Jatuhnya Pesawat Uruguay Force Flight Di Andes


Terjadi di pegunungan Chili, Andes — perbatasan Argentina - Chilli – pada musim dingin tahun 1972. Peristiwa ini bermula dengan jatuhnya pesawat carteran Uruguay Air Force Flight 571 yang membawa 45 orang penumpang, termasuk di dalamnya tim rugbi dan keluarganya, di pegunungan Chili, Andes, 13 Oktober 1972.

Dari kecelakaan itu, 29 penumpang berhasil selamat, namun medan yang berat membuat satu demi satu korban berjatuhan. 8 orang tewas tertimbun longsoran salju, beberapa lainnya meninggal karena berbagai sebab, di antaranya, suhu yang luar biasa dingin dan cedera. Akhirnya yang tersisa hanya 16 orang, mereka berhasil di selamatkan pada 23 Desember 1972.

Para korban hanya memakai pakaian seadanya, tidak ada makanan, siapapun tak bisa berpikir normal. Bagaimana caranya bertahan hidup, survive, itulah satu-satunya yang ada dalam pikiran mereka. Dan, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan memakan teman-teman mereka yang telah tewas. Ini bukan keputusan mudah, bahkan terlalu berat, tapi harus dilakukan jika ingin hidup. Biasanya, dalam keadaan terjepit seperti itu, orang baru mengerti betapa berharganya sebuah kehidupan. Dan mereka berjuang untuk mempertahankannya, apapun caranya.

Yang menyakitkan, lewat radio mereka memonitor kalau upaya pencarian mereka dihentikan karena lokasi kecelakaan tidak ditemukan. Operasi penyelamatan mereka dihentikan setelah delapan hari pencarian, atau 11 hari mereka jatuh di gunung. Pihak berwenang menganggap semua korban pasti tidak ada yang selamat. Bisa dimaklumi, lokasi pengunungan itu sangat sulit diakses, sementara dari udara terlihat semua berwarna putih karena tertutup salju. Celakanya, pesawat itu pun berwarna putih. Persisnya, 72 hari mereka berjuang untuk hidup sebelum akhirnya ditemukan tim SAR. Itupun setelah dua orang dari korban, Nando Parrado dan Roberto Canessa, berjuang mencari bantuan. Mereka menuruni pegunungan, mencari jalan menuju "kehidupan". Selama 12 hari keduanya menempuh jalan sulit hingga akhirnya penduduk setempat, Sergio Katalan, menemukan mereka. Akhirnya, semua korban sebanyak 16 orang dibawa ke rumah sakit Santiago dan dirawat karena menderita penyakit ketinggian, dehidrasi, radang dingin, patah tulang, kudis dan gizi buruk.

Pengalaman luar biasa ini, difilmkan pada tahun 1993, dan sejak itu menjadi salah satu kisah ajaib paling terkenal sepanjang masa. Tahun 2006 lalu, Nando Parrado, salah seorang yang selamat, membukukan pengalamnya yang dramatis itu dalam buku berjudul Miracle in the Andes: 72 Days on the Mountain and My Long Trek Home.

Kisah Kanibalisme Ekspedisi Franklin


Sebuah ekspedisi perjalanan yang paling disesali sepanjang masa. Populer dengan sebutan ekspedisi Franklin, seorang perwira angkata laut yang sudah berpengalaman dan berkali-kali memimpin ekspedisi, dan kali itu tahun 1845, dia diperintahkan Sir John Barrow memimpin ekspedisi lagi yakni menyelesasikan pemetaan bagian barat laut ujung Kanada dan melayari Kutub Utara. Ekspedisi itu sendiri dilakukan dua kapal, Erebus dan HMS Terror, dua kapal canggih di zamannya.Tapi kecanggihan teknologi, tak mampu mengalahkan alam.

Konon dua kapal ini terkepung es di Selat Victoria dekat Pulau King William di Arktik Kanada. Franklin dan 128 kru serta peneliti dinyatakan hilang. Nasib ekspedisi Franklin ini baru terungkap berabad-abad kemudian. Selama itu pencarian terus dilakukan, bahkan dengan iming-iming hadiah. Sebuah pencarian yang dipimpin oleh Francis Leopold McClintock pada tahun 1859 menemukan sebuah catatan yang tertinggal di Pulau King William tentang rincian ekspedisi itu. Pencarian kemudian dilanjutkan sampai abad ke-19.

Barulah pada tahun 1981, lewat penelitian tim ilmuwan yang dipimpin Prof Owen Beattie, seorang antropologi dari Universitas Alberta, berhasil mengungkap beberapa hal dari temuan mereka di Pulau Beechey dan Pulau King William. Di Pulau Beechey di mana beberapa awak dikubur, ditemukan bahwa mereka meninggal karena radang paru-paru dan mungkin TBC serta keracunan timah. Tapi penemuan yang juga mengejutkan di Pulau King William di mana terjadinya kanibalisme karena kelaparan sehingga akhirnya semua terbunuh.

Kisah Kanibalisme Kapal Pemburu Ikan Paus, Kapal Essex


Cerita tentang kanibalisme untuk survive di kalangan pelaut sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan pada awal-awal abad ke-19 dunia maritim marak dengan cerita-cerita mengerikan semacam itu. Salah satu contohnya adalah Kapal Essex, kapal pemburu paus, pada tahun 1820. Kisah itu dimulai dengan kecelakaan kapal pada tahun 1820, di mana paus menabrak Essex yang menyebabkan kapal tersebut tenggelam di 2.000 mil laut (3.700 km) sebelah barat pantai barat Amerika Selatan.

Sebanyak 21 awak berhasil menyelamatkan diri di Pulau Henderson, wilayah Kepulauan Pitcairn. Di Pulau Henderson mereka bertahan dengan makan ikan, burung juga tumbuhan yang ada, juga ditemukan sumber mata air kecil untuk minum. Sayangnya, sumber daya alam pulau itu hanya cukup untuk seminggu, selanjutnya tidak ada lagi yang bisa dimakan. Mereka masih mencoba bertahan dengan minum air kencing sendiri, tapi tidak lama. Jadi, bisa ditebak apa yang terlintas di pikiran mereka untuk bisa bertahan.

Di sinilah berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Mereka saling membantai dan saling memakan. Tidak ada teman, sahabat, bahkan saudara, semua saling bantai. Tragisnya, kapten kapal, Pollard ikut memakan sepupunya, Owen Coffin, yang sebelumnya dibantai oleh anak buahnya sendiri. Pertolongan baru datang hampir setahun kemudian oleh kapal penangkap ikan Dauphin Nantucket 95.

Saat itu dua orang yang selamat, kapten Pollard dan Ramsdell, orang yang membunuh Coffin sepupu Pollard. Di tempat terpisah kru lain berhasil diselamatkan kapal dagang India. Sebanyak 8 orang berhasil diselamatkan. Pengakuan mereka, mereka berhasil bertahan hidup dengan mengkonsumsi mayat 7 temannya.

Kisah Kanibalisme Tragedi Holocaust


Holocaust atau Holokaus adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II. Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holokaus, yang disebut kaum Nazi sebagai “Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi/Pembantaian Ras Yahudi”. Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa.

Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain, dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, di kampung Yahudi dan Kamp konsentrasi. Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi “tidak disukai” antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah’s Witnesses), orang komunis, suku Gipsi, dan lawan-lawan politik.

Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holokaus bisa mencapai 9-11 juta jiwa. Kesadisan Nazi memperlakukan tawanannya sudah menjadi cerita yang hidup puluhan tahun hingga kini. Apa dan bagaimana mereka diperlakukan menjadi kisah yang tak henti-hentinya mengundang air mata dan kemarahan.

Konon, para tawanan perang Jerman ini dibiarkan kelaparan di kamp-kamp konsentrasi yang didirikan Jerman. Dampaknya, demi mempertahankan hidupnya para tawanan pun saling memakan satu sama lain.

Kisah Kanibalisme Alferd Packer


Alferd Packer sering dikenal sebagai satu-satunya warga Amerika yang pernah dihukum dengan tuntutan kanibalisme, meskipun sebenarnya tuntutannya adalah pembunuhan, bukan kanibalisme. Anggota Partai Donner yang terkenal itu pun, tidak dihukum karena kanibalisme di California, karena secara hukum kanibalisme bukanlah kejahatan di Amerika Serikat.

Pada 9 Februari 1874, dia dengan 5 orang lainnya melakukan ekspedisi di Pegunungan Colorado. Dua bulan kemudian Packer kembali dari ekspedisi sendirian. Ketika ditanya kemana orang-orang yang telah pergi dengan dia, Packer mengatakan bahwa dia telah membunuh mereka semua untuk bertahan hidup dengan terpaksa memakan tubuh teman-temannya.

Kisah Kanibalisme The Greely Expedition


Pada tahun 1881, Letnan Amerika Serikat Adolphus Greely memimpin ekspedisi Arktik dengan hanya enam yang masih hidup saat kembali sebagai pahlawan ke Amerika di tahun 1884. Pihak berwenang pada saat itu mencoba untuk menutupi kanibalisme yang terjadi tapi wartawan menemukan bahwa salah satu orang ditembak dan dibunuh untuk dimakan oleh anggota yang tersisa. Otopsi yang kemudian dilakukan mengonfirmasi dugaan tersebut yang membuat semua orang pada waktu itu terkejut.

Kisah Kanibalisme Perjalanan Kapal Pesiar Jack Want


Jack Want, seorang pengacara Australia yang kaya raya pada tahun 1884 membeli yacht dan merekrut seorang pelaut berpengalaman dengan tiga awak untuk berlayar kembali ke Australia. Sayangnya, kapal pesiar terjebak dalam badai dan tenggelam. 4 anggota berhasil selamat dengan menggunakan sampan tetapi kelaparan selama 3 minggu. Mereka mencoba untuk mencegah kelaparan dengan meminum urine mereka sendiri, menangkap penyu untuk diminum darahnya, dan makan dagingnya. Tapi akhirnya, mereka menemukan bahwa mereka sendiri adalah satu-satunya sumber makanan yang kemudian mengarah ke keputusan untuk membunuh dan memakan awak termuda yang berusia 17 tahun yakni Richard Parker.

Kisah KanibalismeNarapidana yang Kabur di Siberia


Siberia memiliki lingkungan yang keras, dan penjara Siberia adalah salah satu penjara paling brutal di dunia. Sebuah penjara yang ada di pulau Saghalien, pada tahun 1903, terdapat 4 orang narapidana yang lolos, namun hanya 2 orang yang berhasil ditangkap kembali. Adapun 2 lainnya, mereka dimakan 2 orang sisanya karena tidak ada jatah makanan yang cukup dalam dingin. Mereka minum darahnya, memotong, dan membekukan dagingnya untuk kemudian dimakan.

Itulah kisah-kisah kanibalisme paling terkenal di dunia. Dari banyaknya kasus kanibalisme kita sebaiknya hati-hati jika bertemu orang baru, jangan langsung percaya semua yang dikatakannya. Tapi, nyatanya ada saat dimana kanibalisme adalah jalan satu-satunya agar tetap hidup, semoga kita tidak akan pernah dihadapkan pada kondisi seperti itu, memilih mati atau menjadi seorang kanibal.

Sumber referensi:
www.wikipedia.org
www.kejadiananeh.com
www.idntimes.com
www.brilio.net
www.jambi.tribunnews.com
www.ceritakisahdunia.web.id
www.news.okezone.com
www.international.sindonews.com
www.liputan6.com

Sumber gambar:
www.deviantart.com

Keywords: Cerita Kanibal, Kanibalisme, Suku Kanibal, Orang, Horor, Daging Manusia

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kisah-Kisah Kanibalisme Terkenal dari Seluruh Dunia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel